Sabtu, 16 Agustus 2014

Purwakarta Berjaya di Dunia


Istimewa. Hanya kata ini yang layak disandang oleh Kabupaten Purwakarta. Sudah hampir empat tahun berturut-turut, Purwakarta, sebuah kabupaten kecil yang berada di Provinsi Jawa Barat menjelma sebagai sebuah daerah yang mengejewantahkan budaya dalam kehidupan keseharian.

Meski tak memiliki predikat sebagai ‘Puseur Sunda’, ataupun kota budaya seperti daerah-daerah lainnya, tapi pengelolaan pemerintahan hingga berbagai sendi-sendi kehidupan di Purwakarta justru telah mengaplikasikan nilai-nilai budaya ini. Tak hanya terjebak pada lokalitas, nama Purwakarta telah melanglang buana ke seantero nusantara�"bahkan dunia. Hal ini terlihat dari perayaan hari jadi yang sejak beberapa tahun terakhir ini tak hanya melibatkan masyarakat Purwakarta semata.

Melainkan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Dan tahun lalu, masyarakat dari negara-negara ASEAN pun turut berpartisipasi dalam hari jadi Purwakarta.

Dan pada 2014 ini, Purwakarta sebagai kota budaya yang dikenal hingga ke tingkat dunia, semakin dikukuhkan dalam peringatan hari jadinya yang ke-183 dan Kabupaten Purwakarta ke-46. Dengan mengusung tema Purwakarta Istimewa Jaya Buana, yang memiliki arti Purwakarta istimewa Berjaya di Dunia.

Betapa tidak, peringatan hari jadi Kabupaten yang di Pimpin oleh Bupati yang menjabat selama dua Periode, H. Dedi Mulyadi tersebut akan dimeriahkan oleh festival budaya bertaraf Internasional: Asia Pasifik. Peringatan hari jadi tersebut akan diawali dengan acara festival bedug yang akan dilakukan pada malam takbir atau 1 Syawal. Hal itu, sekaligus menjadi salah satu rangkaian acara peringatan Ulang tahun kabupaten dengan arsitektur terbaik di Jawa Barat itu.

Seperti yang dikatakan oleh Wakil ketua I Panitia Hari Jadi Kota Purwakarta Ke - 183 dan Hari jadi Kabupaten Purwakarta Ke �" 46, Ir. Muhamad Fadjar Sidik. Menurut Fadjar,  peringatan hari jadi Kota bersejarah itu akan dimeriahkan dengan delapan acara yang telah direncanakan.

“Kita akan awali dengan Festival bedug, yang akan dilangsungkan pada malam takbiran. Dan puncaknya pada pelaksanaan Carnaval Budaya Aspac (Asia �"Pasifik), sebelumnya kita kan menggelar sidang Paripurna Istimewa terlebih dahulu pada Minggu 20 Juli, sebagai pembuka rangkaian pesta rakyat tersebut,” katanya kepada RMOL Jabar.


Pemilihan puncak acara yang melibatkan negara-negara se- Asia Pasifik tersebut, merupakan implementasi dari tema peringatan Hut Purwakarta kali ini. Dengan tema Purwakarta Istimewa Jaya Buana, merupakan sebuah indikasi bahwa Pemerintahan otonom di kabupaten juga bisa menunjukan kapasitasnya di dunia Internasional. Semangat untuk membangun citra serta prestasi di dunia Internasional, merupakan semangat yang digadang panitia hut di kota keramik ini.

“Tema HUT kali ini adalah Purwakarta Istimewa Jaya Buana, yang berarti kita jaya di dunia.Maka daripada itu, dalam peringatan HUT kali ini, kita melibatkan negara-negara tetangga untuk mengirimkan para delegasi keseniannya untuk saling menunjukan kesenian di depan masyarakat Purwakarta,” jelas Fadjar.

Sedikitnya, ada 15 negara yang berasal dari Asia-Pasifik yang akan terlibat dalam perayaan Hari Jadi Purwakarta, diantaranya Singapura, Brunei Darusalam, Malaysia, Filipina, Thailand, Laos, Kamboja, India, Australia, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Namun tak hanya para delegasi dari negara-negara tersebut, beberapa perwakilan dari seluruh Provinsi yang ada di Indonesia juga akan dilibatkan dalam Carnaval budaya ini.

Direncanakan pada penyelenggaraan Carnaval Budaya Aspac itu, akan dimeriahkan juga dengan penampilan pasukan berkuda, dan kereta kencana, lalu penampilan 3333 lampion terbang, serta dentuman kembang api yang akan menghiasi langit-langit Purwakarta.

Akan tetapi, tak lengkap bila mana peringatan hari jadi Purwakarta itu tanpa meninggalkan kesan sebuah catatan sejarah.Seperti yang telah dilakukan sejak Hut di tahun 2011 lalu, Purwakarta selalu memberikan catatan rekor baru di Museum Rekor Indonesia atau yang dikenal dengan MURI.

Kali ini Purwakarta akan memecahkan rekor MURi dengan Kategori Pawai Cetok (topi caping petani,red) terbanyak.  Yang mana sebelumnya Purwakarta telah mencatatkan namanya dengan rekor mengarak 37.687 tumpeng pada 2011, lalu pada 2012 Parade Egrang dengan jumlah peserta yang menggunakan Egrang sebanyak 14.570 orang, serta pada 2013 menerbangkan Lampion terbanyak dengan melibatkan 10.000 orang.

“Kali ini Rekor yang akan kita buat adalah pawai Cetok, yang nantinya akan melibatkan 50.000 orang-orang Purwakarta. Itu target kita kali ini, ya bisa saja lebih tapi kita usahakan minimal jumlahnya segitu,” ujar Fadjar.

Tak dipungkiri, kebiasaan perayaan HUT Kabupaten yang hanya memiliki luas wilayah sekitar 2,8 persen dari Provinsi Jawa Barat ini selalu mendapatkan perhatian lebih dari para wisatawan.  Fadjar menegaskan semua wisatawan bisa saja bergabung atau berpartisipasi bila mereka menginginkannya.  Namun dengan catatan mendaftarkan dirinya terlebih dahulu kepada panitia pelaksana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar