Rabu, 04 September 2013

"Dasar Pendidikan adalah Sebuah Kasih Sayang"


Kekuatan guru saat mengajar dihadapan siswa bukan lah pada sejauhmana guru itu banyak menguasai materi pada buku, bukan pula pada pengalaman yang guru alami. Tetapi kekuatan guru ada pada rasa.
Falsafah sunda menyebut, guru nu linuhung, pandita anu wiwaha, eta aya dinu wening ati na, nu leah manah na, nu rancage hatena, jeung rancingas rasana. Kekuatan guru yang adiluhung ada pada kekuatan rasanya, jika guru memiliki itu, niscaya melahirkan anak didik yang cerdas secara keilmuan tetapi juga memiliki nilai rasa (spiritual inteligence-red).
“Tetapi jika guru mendidik siswanya mengikuti kurikulum, juklak juknis tanpa pemahaman yang dimiliki dan bingkai rasa kasih dan sayang pada muridnya, maka yang dilahirkan adalah generasi yang tidak tentu arah, kecerdasannya hanya mengancam kehidupan ini. Budak nu linglung, bingung, teuing kamana sarakan pangbalikan, teu apal kana Purwadaksi na”, demikian disampaikan Bupati Purwakarta, H. Dedi Mulyadi, SH  saat sambutan pada peringatan Isro Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Keluarga Besar Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Purwakarta, Rabu (12/06) pagi di Pendopo Pemkab Purwakarta.
Menurut bupati, hikmah dari Isro Miraj adalah kepasrahan diri kita pada Allah SWT, yang digambarkan oleh pengalaman Rasulallah dengan peristiwa Isro Miraj itu. Dan sunda cukup jelas memberikan pelajaran bagi kita tentang kepasrahan ini.
Dengan ajaran Sunda Wiwitan, yang menyebut hirup ukur sasampeuran, awak ukur sasampayan, sariring riring dumadi, sarengkak saparipolah, Gusti Nu Maha Suci moal nanggeuy ku bongkokna. Inilah ajaran Islam Universal, “kesininya, hukum universal itu diterjemahkan oleh masing-masing ulama. Ada Imam Maliki, Imam Hanafi dan lainnya, dan itu ketika diterjemahkan disesuaikan dengan kondisi karakteristik dan budaya masyarakatnya”, tambah Bupati.

Untuk itu menurut bupati, mengambil pelajaran dari peristiwa Isro Miraj adalah memaksimalkan fungsi rasa kita. Hanya dengan pendekatan rasa inilah yang bisa mendekatkan kita pada Allah SWT. “dengan rasa, kita mulai tata cara makan kita, dengan rasa kita benahi cara tidur, benahi lingkungan sekolah, benahi cara bicara kita. Walaupun kurikulum diganti-ganti, buku bertumpuk-tumpuk, sementara rasa dan turunan nya itu belum kita benahi, jangan harap Ilmu akan masuk pada dirinya”, tegas Bupati.
Terkecuali itu, yang harus dilakukan guru pada muridnya adalah lebih banyak memberikan pelajaran aplikatif, sebab manusia pada dasarnya lebih memaksimalkan daya lihatnya dan daya dengarnya, bukan pada membaca.
Islam melalui penggalan kalimat terakhir pada ayat yang menerangkan peristiwa Isro Miraj, telah menjelaskan pentingnya pelajaran aplikatif itu, Linuriyahuminayatina innahu huassyamiiulbasyiiir, “adanya tanda-tanda kekuasaan Allah yang perlu kita ketahui. Dan caranya adalah dengan melihat dan mendengarkan bukan membaca secara tekstual. Bagaimana seorang guru menjelaskan sekaligus mensimulasi siklus terjadinya hujan turun ke bumi, di bumi disediakan hutan dengan pohon2nya yang menyimpan air hujan itu, turun ke daerah landai ke perumahan sehingga ke laut. Itulah yang perlu dijelaskan pada anak didik kita”, tambah bupati.
Hal senada diungkapkan KH. Jujun Junaedi yang menjadi Narasumber dalam peringatan isro miraj ini. menurutnya, Isro Miraj mengisahkan perjalanan rasulallah sebelum Miraj ke sidratulmuntaha, dibawa dulu oleh malaikat jibril ke masjidil haram ke sumur zam-zam untuk dibersihkan dulu hati dan jasadnya.
Ini hikmahnya adalah siapapun kita dan apapun pekerjaan kita hendaklah bersihkan dulu hati agar tetap ikhlas. “kita harus awali semua aktivitas dengan niatan ikhlas dan memaksimalkan rasa”, jelas Jujun.
Sementara, jika yang diharapkan oleh seorang guru misalkan ketika ngajar karena jabatan atau harapan naiknya gaji, maka yang timbul dalam dirinya adalah berhala. Semuanya difokuskan pada nilai-nilai materi, mengajar hanya sebatas pemenuhan kurikulum, mengejar sertifikasi untuk naik tunjangan dan nilai materi lainnya, itulah yang sebenarnya pemberhalaan, “berhala itu yang menghalangi kita bertemu dengan Allah SWT”, tegas Jujun.
Untuk itu, menurut Jujun, Miraj nya seorang guru, adalah ketika dia berada di kelas, mendidik dengan memaksimalkan rasa. “Miraj nya seorang Bupati, adalah ketika menandatangi APBD yang itu berpihak pada kaum mustadafin”, pungkas Jujun.
Peringatan Isro Miraj yang digelar Keluarga Besar Disdikpora Purwakarta diikuti oleh sekittar 6000 guru dari semua tingkatan, termasuk diikuti oleh Pejabat Eselon II, III dan IV serta pegawai dilingkungan Setda Purwakart. Sumber http://www.purunews.com/2013/06/pentingnya-memaksimalkan-rasa-saat.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar